Bisnis

Pelaku Usaha di Subang Harus Siap Hadapi MEA

SUBANG – Memasuki tahun 2016 para pelaku usaha di Kabupaten Subang dipaksa harus siap menghadapi masa pemberlakuan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Jika tidak siap para pelaku usaha dipastikan akan tertinggal.

Seorang pelaku Usaha Kecil Menengah (UKM) yang bergerak di bidang kuliner, Mulyadiana, mengatakan walaupun dirinya mengaku belum sepenuhnya siap menghadapi era persaingan bebas MEA. Namun pihaknya mau tidak mau harus mampu mengahadapinya.

“Iya, mau gimana lagi. Siap tidak siap, ya kita harus siap, karena MEA memang kenyataan yang tak bisa dihindari. Lagipula, kalau tidak siap, bisnis kita pasti tertinggal, dan kalah bersaing,” kata Mulyana.

Pemilik RM Liwet Mang Nana itu, menegaskan untuk menghadapi MEA, pihaknya mulai melakukan sejumlah upaya. Seperti, memerluas jaringan, memersiapkan modal dengan menjalin kerjasama perbankan, melakukan inovasi dan diversifikasi produk, serta menambah fasilitas. Saat ini, bisnis kuliner yang dijalaninya memekerjakan sebanyak 30 karyawan, dan akan ditambah lagi sekitar 35 karyawan.

“Kami tidak mau ketinggalan bersaing di MEA. Karena itu, selain memperkuat SDM pekerja, kami juga melakukan inovasi produk dengan menyediakan kuliner khas luar negeri atau internasional, tapi dengan tetap mengusung menu unggulan tradisional Indonesia,” katanya.

Terpisah, Kasi Perdagangan dan Jasa, Hari Susanto, mewakili Kabid UMKM Dinas Koperasi Subang, Yeni Nuraeni mengatakan saat ini puluhan ribu UKM yang berada di Subang dinyatakan belum siap menghadapi era persaingan bisnis MEA. Hal tersebut dikarenakan terkendala lemahnya SDM dan keterbatasan modal.

“Sejauh ini, kalau konteksnya harus bersaing di MEA, mungkin hanya beberapa UKM yang siap bersaing. Tapi umumnya, para pelaku UKM di Subang, mayoritas belum sepenuhnya benar-benar siap menghadapi MEA,” katanya.

Berdasarkan data instansinya, saat ini, jumlah usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) sebanyak 22.079 unit. Terdiri dari, usaha mikro 17.676 unit, usaha kecil 3.521 unit, dan usaha menengah 882 unit.

UMKM tersebut bergerak dalam berbagai bidang usaha, di antaranya perdagangan seperti kelontongan, produk olahan pertanian, produk non pertanian dan aneka usaha. Namun, mayoritas didominasi oleh usaha rumahan (home industry), dengan modal terbatas.

Hari menyebut, meski kerap terpinggirkan, eksistensi UMKM sudah teruji mampu bertahan dalam situasi krisis. Dan, dibandingkan dengan jenis usaha lain, UMKM dikenal paling banyak menyerap tenaga kerja.

“Jika per unit UMKM menyerap sedikitnya tiga pekerja, maka estimasi kami, mereka yang bekerja di sektor UMKM diperkirakan sebanyak 60.000 orang lebih. Jenis usaha ini, juga paling mampu menahan badai krisis, dan hanya 3 persen saja yang gulung tikar, bangkrut,” katanya.

Meski demikian, dalam menghadapi era persaingan MEA, ada sejumlah kendala yang menyebabkan puluhan ribu UMKM tersebut, belum siap menghadapinya. Diantaranya, lemahnya kapasitas SDM, terbatasnya modal, pemasaran minim, dan manajemen usaha yang mayoritas masih konvensional (tradisional).

Untuk mengatasi kendala-kendala ini, dinas sebagai kepanjangan tangan pemkab, memiliki peran penting. Terutama dalam menghadapi MEA, pihaknya mengaku sudah melakukan sejumlah langkah, untuk memerkuat keberadaan pelaku UMKM agar siap bersaing dengan pelaku usaha asing.

“Di antaranya, kami tingkatkan pembinaan dan pelatihan bagi pelaku UKM; memasilitasi pemasaran produk melalui otlet-otlet, pameran, dan bekerjasama dengan ritel-ritel modern, untuk memasok produk UKM kepada mereka,” ungkapnya.

Kecuali itu, pada aspek permodalan, pihaknya juga memasilitasi UKM dengan perbankan, lewat program kredit cinta rakyat (KCR) dan KUR; program kemitraan dengan BUMN seperti PJT II; membuka jasa konsultasi usaha lewat ‘klinik bisnis’ dan membentuk PLUT atau pusat layanan usaha terpadu; serta memberikan bantuan peralatan usaha, meski nilainya kecil sekitar Rp5 jutaan.

Meski upaya-upaya tersebut dirasa belum maksimal, akibat terbatasnya alokasi anggaran pembinaan UKM yang hanya Rp120 juta per tahun; namun, pihaknya berharap, minimal para pelaku UMKM ini mampu mengimbangi era persaingan MEA.

“Kalau harus siap sepenuhnya menghadapi MEA, kami pikir, umumnya para pelaku UKM belum siap. Tapi minimal, dengan upaya-upaya itu, mereka bisa mengimbangi serbuan persaingan produk-produk luar,” pungkasnya.

Comments

Redaksi: Jl. R.A. Kartini No 8A Kabupaten Subang, Jawa Barat 41285

Tlp: (0260) 4240904 atau SMS/WA: 085 224 950 462 - Email: redaksi[@]mediajabar.com

© MEDIAJABAR.com - 2016. MEDIAJABAR.com tidak bertanggung jawab atas berita dari situs luar

To Top