Bisnis

Usaha Kripik Pisang dan Singkong Butuh Perhatian Pemerintah

SUBANG – Jika Anda ke Kabupaten Subang singgahlah ke kampung Cigore Desa Tenjolaya Kecamatan Kasomalang, disana Anda akan menemukan sentra produksi kiripik pisang dan singkong khas Subang.

Usaha kripik pisang yang berbasis kerakyatan, tanpa bantuan modal pemerintah tersebut mampu berkembang dan bisa disejajarkan dengan makanan ringan khas daerah Subang lainnya.

Sebenarnya bukan hanya kiripik daerah yang menjorok dari Kecamatan Kasomalang ini, berjarak sekitar 30 kilometer dari kota Kecamatan Kasomalang Anda akan menemukan beragam makanan khas lainnya yang diproduksi oleh masyarakat.

“Disini  rata-rata disetiap rumah membuat kiripik singkong atau pisang sendiri. Iya, produksi rumahanlah, lumayan ada yang dijual langsung ke pembeli yang datang, tapi disini kan ada industri kecil, ya kita jual kesitu juga lumayan,” ungkap Asum, 36 warga kampung Cigore, Jumat (29/12/2016).

Menurutnya di Kasomalang sendiri, ada sekitar 4-5 home industri, belum terbina dan mereka bisa bertahan dengan modal yang tidak besar.

“Soal harga dijual Rp. 3.000,- sampai Rp.7000,- perbungkus untuk dijual Rp.5.000, dan 10.000, itu udah bagus segitu harganya,” katanya.

Menurut warga lainnya, M Aminulloh (18), bahan baku berupa singkong dan pisang di kampung Cigore sangat melimpah dan mudah didapat.

“Sekarang singkong sedang murah Rp.400,-/kg jadi persediaan memang banyak warga yang menanam dan stock jual mereka juga ada, kita langsung beli ke petani sama juga dengan pisang,” ungkapnya

Menurut mereka soal rasa tidak kalah bersaing dengan yang sudah punya label dan kekurangan mereka hanyalah soal merk dagang

PemerhatI UKM  Dedi Mulyana mengatakan jelang era AFTA dan MEA peluang masyarakat kabupaten Subang untuk bersaing di pasar global sebenarnya besar namun butuh sosialisasi dinas terkait untuk  bisa menyentuh sentra-sentra produksi UKM agar bisa berdaya saing.

“Harus terlatih terutama pemasaran dan quality control serta market demand dan strategy bisnis, tugas dinas seperti indagsar, PLUT dan instansi terkait lainnya yang harus “turba” menyentuh dan memberikan penyuluhan,” ungkap Dedi Mulyana.

Comments
To Top