Daerah

Harga Beras Melonjak Naik, Wong Cilik Menjerit

CIMAHI – Harga beras yang merangkai naik minggu-minggu ini menjadi tantangan pemerintah untuk bisa memberi solusi kepada rakyatnya, sebagai bahan kebutuhan pokok rakyat pengendalian harga beras perlu lebih efisien sehingga warga tidak terdampak secara langsung dan hanya bersikap pasrah serta merta menyalahkan pemerintahan.

Penetapan Harga Eceran Tertinggi (HET) komoditi seperti beras perlu dipatuhi para pedagang dan distributor beras, Harga beras yang melonjak dari Rp. 9-10 Ribu Rupiah ke harga Rp. 11-15 Ribu/Kg membuat warga kecewa.

“Beras mahal begini, ini kan kebutuhan pokok kalau harganya jadi 11, 12, 13 sampai Rp. 15 Ribu pengaruhnya besar buat keluarga seperti kami,” ungkap Masyitoh warga Cimahi Selatan kota Cimahi, Sabtu (12/1/2018).

Sementara itu kenaikan harga yang membuat beberapa instansi menggelar operasi pasar menirut Masyitoh belum bisa diandalkan karena tidak langsung menyentuh warga miskin di daerah.

“Operasi pasar yang mana ya, kok di kami nggak ada, kalau mau turunkan harganya biar daya beli masyarakat seimbang, mampu membeli kebutuhan pokok ini, tolong pemerintah segera turunkan dan kembalikan harga beras,” imbuhnya.

Pantauan Wartakini.co di kabupaten Subang, Sunedang harga beras premiun mencapai Rp. 270 Ribu/karung sementara di kota Cimahi bisa mencapai Rp 300 Ribu, harga perkilogram mencapai Rp. 13 Ribu hingga Rp.15 Ribu Rupiah.

Para petani yang belum panen di berbagai daerah, menjadi dugaan sementara melonjaknya harga beras namun perlu kewaspadaan dari para penegak hukum adanya spekulan yang sengaja mengambil untung atas situasi ini.

Comments
To Top