Daerah

Obat Untuk Pasien BPJS di RSUD Ciereng Subang Selalu Habis

Salah satu ruangan yang berada di RSUD Ciereng Subang

SUBANG – Obat untuk pasien Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ciereng Subang selalu dalam keadaan habis. Hal tersebut tentunya membuat pasien harus membeli obat di apotek.

Kondisi habisnya obat untuk pasien BPJS Kesehatan saat ini kembali menjadi pembicaraan karena banyak pasien mulai mengeluhkan kondisi tersebut. Banyak diantara mereka merasa tidak diperlakukan semestinya oleh pihak rumah sakit.

Apalagi harga obat di apotek yang berada diluar rumah sakit harganya sangat mahal. Ini tentunya menjadi beban tersendiri bagi masyarakat yang setiap bulan sudah membayar iuran untuk BPJS Kesehatan.

“Lumayan, dari awal masuk infus harus beli, resep obat harus beli. Sampai tiga hari ini sudah hampir Rp 1 juta. Belum scanner juga harus di luar,” kata keluarga pasien asal Kelurahan Soklat, Subang Dadhe Alfath, Rabu (24/5/2017).

Dengan selalu membayar iuran setiap bulan, namun tetap harus membela obat diluar. Ini tentunya menjadi untuk masyarakat yang kurang mampu, karena mereka menggunakan BPJS tujuannya untuk meringankan beban biaya pengobatan.

“Kalau obat selalu habis, dan harus beli di luar ini akan menjadi beban. Apalagi untuk orang tidak mampu,” katanya.

Keluarga pasien lainnya asal Kelurahan Sukamelang Haris Maulana mengatakan, memang setiap pasien yang dirawat di RSUD Ciereng keluhannya selalu sama. Yaitu obat selalu dalam keadaan habis.

“Satu obat selalu habis, yang kedua pelayanan kurang maksimal, masa yang sakit kalau butuh apa-apa harus sendiri. Jadi membuat keluarga yang sehat bisa jadi sakit,” katanya.

Seharusnya pelayanan RSUD Ciereng itu harus benar-benar maksimal karena pasien berobat ke rumah sakit ingin sembuh bukan untuk menambah maslah. Contohnya jika impisan habis keluarga pasien yang harus ambil sendiri. Padahal banyak perawat.

“Iya, untuk kamar yang terbatas kita maklumi. Ini yang suka nyesek, masa kita keluarga pasien harus muter-muter kesana kemari kalau ada hal yang kurang. Padahal kita mengantar itu, inginnya tenang. Bukan malah terbawa pusing,” katanya.

Wakil Dirut Umum dan Keuangan RSUD Ciereng Subang Dede Lukita, saat dikonfirmasi belum bisa memberikan keterangan terkait keluhan masyarakat pasien BPJS yang selalu kesulitan mendapat obat.

“Maaf, nanti pak Arie Humas yang bisa menjelaskan,” kata Dede Lukita.

Kepala Kantor Layanan Operasional Kabupaten (Klok) BPJS Kesehatan Subang Mira Marliana mengatakan, sesuai aturan yang berlaku seluruh pelayanan kesehatan termasuk obat semuanya dicover oleh pihak BPJS Kesehatan.

“Iya, pasein peserta BPJS semuanya dicover. Termasuk obat dan biaya untuk dokter,” kata Mira Marliana.

Namun, beberapa minggu kebelakang memang obat di RSUD sempat kosong dan hal tersebut tentunya membuat pasien harus membeli obat diluar atau di apotek terdekat.

“Memang stok obat sempat kosong, oleh karena itu pasien yang membeli obat di luar, nanti bisa diklaimkan ke instalasi. Pengembaliannya sekitar satu atau dua minggu,” katanya.

Para peserta BPJS Kesehatan harus memahami bahwa aturan klaim terebut harus dikembalikan lagi ke pihak RSUD. Hal tersebut dikarenakan RSUD yang berwenang mencarikan solusi untuk permasalahan saat obat kosong.

“Intinya BPJS mengcover semua peserta sesui aturan yang berlaku. Nah, kalau soal obat habis, itu tanggung jawab RSUD. Kalau untuk solusinya ya, itu tadi bisa diklaimkan seusai kebijakan mereka,” katanya.

Comments
To Top