Daerah

Senin-Selasa Tak Ada Paslon Bupati/Wabup Mendaftar, Karena Larangan Bulan?

SUBANG – Walaupun pendaftaran Paslon Bupati/Wabup Subang sudah dibuka sejak tanggal 8 Januari 2018 namun hingga tanggal 9 Januari 2018 tak satupun paslon mendaftar di kantor KPU Subang.

Sumber di kantor KPU Subang menyebutkan bahwa paslon akan mendaftar pada hari terakhir pendaftaran Rabu, (10/01/2018).

Ada juga pendapat di masyarakat yang menyebutkan jika bulan ini, hari Senin dan Selasa merupakan larangan bulan, sebuah tradisi masyarakat Sunda/Jawa yang menghitung peruntungan, nasib, kesialan dilihat berdasarkan ‘rumus’ khusus para leluhur.

Walaupun tidak ada satu calon bupati/wabup yang dikonfirmasi terkait penyebab urung mendaftar di hari Senin dan Selasa, ihwal kepercayaan masyarakat terhadap tradisi ini dianggap masih kuat. Seperti dikatakan Kusnadi, 31 pelaku Tradisi kesundaan.

“Kalau di masyarakat Subang, Sumedang, Purwakarta tradisi ini (larangan bulan, red) masih kuat bisa dilihat dalam pelaksanaan hajatan warga biasanya mereka memilih hari secara tepat dan tidak dihari-hari yang disebut sebagai larangan bulan,” ungkapnya, Selsa (9/1/2018).

Menurut dia pelanggaran terhadap larangan bulan ini diindikasikan akan banyaknya halangan, rintangan dan gangguan. Antara percaya atau tidak seorang Kusnadi, pelaku tradisi Sunda buhun ini mengaku jika pemilihan waktu tersebut bukan asal-asalan walaupun boleh saja tidak dipercaya. larangan bulan yang mana berarti sebagai larangan dalam melakukan kegiatan besar di hari-hari tertentu pada bulan tersebut.

“Larangan bulan ini bukan merupakan larangan mutlak karena memang pada dasarnya tidak ada aturan yang melarang hal seperti ini dalam agama Islam, larangan bulan ini hanya dasar daripada pola hidup yang teratur yang setidaknya bisa membuat kita lebih berhati-hati dalam melakukan atau menjalankan sesuatu, larangan bulan ini kan dihitung tiga bulanan berdasar kalender Jawa,” jelasnya.

“Contohnya pas bulan Silih Mulud, Jumadil Awal, Jumadil Akhir larangan harinya ya Senin dan Selasa, ada juga yang berpendapat saat itu karena sang naga atau kala ada berada di selatan jadi jangan bepergian ke Selatan,” imbuhnya.

Namun ada juga masyarakat yang enggan mempercayai hal tersebut menurutnya dizaman modern ini kepercayaan terhadap tradisi ini perlu dikritisi.

Menurut Asep warga Palasari Ciater selama terjaga keimanan dan keIslaman tidak ada yang perlu dikhawatirkan dengan apa yang disebut sebagai ‘larangan bulan’.

“Susah kalau kita banyak berhitung, bayar hutang ke Bank, kegiatan ini dan itu juga kadang lebih urgen pokoknya mau percaya silahkan tidak juga tidak apa-apa,” ucapnya.

Comments
To Top