Daerah

Tolak Valentine, Pelajar Pangalengan Hidupkan Ruang Kreativitas

BANDUNG – Hari Valentine yang selalu dirayakan setiap tanggal 14 Februari dianggap oleh sebagian masyarakat Indonesia sebagai hari kasih sayang.

Umumnya, euforia Valentine ini selalu dilaksanakan oleh kawula muda dalam bentuk pemberian coklat sebagai tanda kasih sayang. Padahal, kalau mau menelisik, tradisi ini bukan tradisi masyarakat Indonesia yang mayoritas beragama Islam.

“Ada kesesatan sejarah yang mesti diluruskan di sebagian masyarakat Indonesia mengenai Valentine ini,” kata Ridwan Rustandi yang ditemui di sela sela kegiatan Klub Aksara Literasi Madrasah Aliyah Ishlahul Amanah Pangalengan (KALAM) Fest 2018.

Sebagai salah satu upaya pencerdasan generasi muda Islam mengenai Valentine ini, KALAM bersama OSIS, IRMAS dan Organisasi Keputrian menggagas diskusi bertajuk “Hidup Gaul Islami tanpa Valentine”.

Acara yang berlangsung pada 11 februari 2018 diselenggarakan dengan tujuan memahamkan generasi muda mengenai kesesatan tradisi Valentine yang bukan berasal dari tradisi bangsa Indonesia, bahkan lebih jauh lagi bukan berasal dari ajaran Islam.

“Sudah saatnya generasi muda aware, bahwa budaya budaya luar bahkan mengancam aqidah kita sebagai umat Islam,” tegas Ridwan selaku Pembina KALAM.

Kurang lebih 400 peserta hadir dan mengikuti kegiatan diskusi ini yang semuanya berasal dari kalangan pelajar setingkat SMP-SMA se-Pangalengan. Dalam acara ini, panitia menyelenggarakan Diskusi Literasi dan Kepenulisan (DILAN) yang menghadirkan Sutanto Nurhadi Permana (Jurnalis Galamedia) dan Teguh Deni Aljabar (penulis Buku Kerikil Harapan).

Selain itu, diselenggarakan pula Talkshow bertajuk Hidup Gaul Islami Tanpa Valentine dengan menghadirkan pasangan nikah muda, Adi Tahir dan Amilah Qisty.

Sebagai bentuk penolakan terhadap valentine, agenda ini diisi pula dengan perlombaan menulis Essay dan lomba Video Kreatif dengan tujuan propaganda menolak Valentine.

“Gerakan pelajar untuk meluruskan pemahaman tentang sesatnya valentine adalah melalui ruang ruang literasi dan kreatifitas, salah satunya melalui diskusi dan perlombaan,” tambah Ridwan.

Ridwan menilai melalui gerakan seperti jni dapat meningkatkan daya kritis dan kreatifitas pelajar dalam membawa perubahan dan memfilter budaya budaya yang datang dari luar. Ia berharap, semoga kegiatan ini menjadi stimulus bagi pelajar Pangalengan untuk melakukan perbaikan dan meningkatkan akhlak yang sesuai dengan ajaran Islam.

Comments
To Top