Pemkab Bandung Barat Dituntut Terbuka

Pemkab Bandung Barat dituntut lebih terbuka dalam
pembebasan tanah calon ibu kota Kabupaten Bandung Barat (KBB), di Desa
Cilame, Kecamatan Ngamprah. Masalahnya, hingga kini Bagian Umum Setda
KBB baru satu kali mengadakan sosialisasi kepada masyarakat Cilame.
Sementara dalam dua minggu terakhir, sejumlah warga mengaku kedatangan
petugas dari Pemkab Bandung Barat yang menanyakan berkas kepemilikan
tanah dan rumah. Tindakan petugas yang datang secara door to door itu
mengundang pertanyaan berbagai pihak.
"Sebetulnya pegawai Pemkab Bandung Barat itu tidak menunjukkan gelagat
hendak menjadi makelar tanah. Tapi yang menjadi pertanyaan saya, mengapa
mendatangi langsung ke rumah warga. Itu 'kan menimbulkan prasangka
lain," kata Agus ES (42), salah seorang tokoh masyarakat Cilame, Rabu
(19/10).
Pihaknya menyarankan supaya Pemkab Bandung Barat secara terbuka
menyosialisasikan rencana pembebasan tanah di Cilame, jangan terkesan
disembunyikan. Hal itu untuk menghindari timbulnya kecurigaan
masyarakat, dan membentengi calo supaya tidak masuk membeli tanah milik
warga.
Ditemui secara terpisah, Kepala Desa Cilame, Aas Mohamad Asor
mengatakan, lahan di Cilame yang masuk zona pembebasan seluas 50
hektare. Berdasarkan hasil pendataan, jumlah bangunan rumah yang terkena
pembebasan sebanyak 250 unit. Daerah yang terkena pembebasan terletak
di Kampung Cijamil, Cinangela, Babakan Bilik, dan Cikupa.
"Sosialisasi pernah satu kali dilaksanakan pada Februari lalu, dan
setelah itu tidak ada lagi. Saya berpendapat sosialisasi tidak cukup
dilakukan satu kali, tapi harus secara kontinu," kata Aas Mohamad Asor.
Menurutnya, sosialisasi sangat penting dalam rangka mencegah terjadinya
pemindahan kepemilikan tanah kepada pihak ketiga. Selain itu,
memberikan kepastian kepada masyarakat bahwa rumah dan tanahnya masuk
zona pembebasan.
"Alangkah lebih baik jika Pemkab Bandung Barat kembali melakukan
sosialisasi. Bukan hanya menyosialisasikan wilayah-wilayah yang terkena
pembebasan, tapi juga secara terbuka mengungkapkan harga tanah yang akan
dibeli pemerintah," tuturnya.
Perlu konfirmasi
Ketika ditanyakan adanya pegawai Pemkab Bandung Barat yang mendatangi
pemilik rumah dan tanah secara sembunyi-sembunyi, Aas Mohamad Asor
mengaku sudah mengetahuinya. Namun ia tidak mengetahui alasan pegawai
Pemkab Bandung Barat itu mendatangi rumah warga.
"Saya baru mendengar kabar itu, tapi masih perlu dikonfirmasikan lagi.
Oleh karena itu, untuk sementara saya belum mendapat memberi
penjelasan," imbuhnya.
Akibat tidak adanya kepastian pembebasan tanah, perwakilan warga Kp.
Cijamil dan Kp. Cinangela sempat mendatangi rumah Kepala Desa Cilame,
Aas Mohamad Asor, bulan Juni lalu. Umumnya warga minta penjelasan kepada
kepala desa, apakah pemerintah jadi membeli tanah yang masuk zona
pembebasan atau tidak.
Sebelumnya Aep Saefuloh, warga Kp. Cijamil RT 01/RW 14 mengatakan,
pemerintah harus segera menindaklanjuti sosialisasi pertama. Harapan itu
bukan hanya dari dirinya, tapi lebih dari 15 warga yang masuk zona
pembebasan.
"Ketidakjelasan ini menimbulkan kebimbangan warga. Bagaimana tidak
bimbang, karena ketika mau menjual kepada orang lain sudah dijanjikan
akan dibeli pemerintah. Tapi sampai sekarang tidak ada kejelasan sama
sekali. Pada prinsipnya warga lebih rela menjual kepada pemerintah, asal
tidak dibeli dengan harga murah," tegas Aep.
- Share this:
- Tweet
- Share
- [refer to site map]
