Opini

Gempa Bumi di Tatar Sunda, Antara Mitos dan Fakta Ilmiah

Warga Jawa Barat memang patut mewaspadai terjadinya gempa seperti di Pidie Jaya Aceh baru-baru ini atau harus belajar dari gempa bumi yang terjadi di belahan dunia ini. Agar bisa mengetahui seberapa besar resiko dan seburuk apa dampak yang diakibatkan gempa bumi.

Rendahnya pemahaman masyarakat terhadap potensi gempa yang sewaktu waktu terjadi dapat mengakibatkan tingginya resiko yang ditimbulkan diantaranya banyaknya korban jiwa dan kerusakan infrastruktur.

Jawa Barat sendiri dianggap rawan gempa salahsatunya karena berada pada sesar/patahan yang tersebar seperti sesar balibis, sesar lembang dan lainnya dan ini memang telah menjadi rahasia umum Jawa Barat dikelilingi banyak gunung berapi yang memang salahsatunya memiliki berpotensi timbulkan  gempa-gempa tekhtonik

Dilansir HU. Pikiran Rakyat (PR) edisi 14 Desember 2016 ditulis bahwa patahan Lembang atau sesar lembang yang membentang sepanjang 29 Kilometer dari Kaki Gunung Manglayang hingga Padalarang sebagai sesar aktif

Penelitian terbaru yang dilakukan tim Geotekhnology LIPI bahwa sesar Lembang ini pernah menciptakan gempa sangat besar sekitar 2000 tahun lalu dan pada sekitar abad 15 Masehi

Sebelumnya Kepala pusat Penelitian Geotekhnology LIPI Eko Yulianto dalam penelitiannya mendeteksi bahwa pernah terjadi gempa terakhir sekitar 500 tahun yang lalu

“Sudah tidak disangsikan lagi sesar Lembang merupakan sesar aktif bagaimkana kita menyiapkan diri dari segala kemungkinan, kondisi saat ini kita jauh dari siap,” kata Eko seperti ditulis di Koran PR

Mitology Gempa bumi bagi masyarakat Sunda

Masyarakat Jawa- Barat tentu mengenal cerita mitos sasakala gunung Tangkuban Perahu yang berdiri kokoh di tatar Sunda tepatnya diatas kecamatan Lembang Kabupaten Bandung Barat dengan panorama indah bisa dilihat dari Kabupaten Subang.

Cerita mitos Dayang Sumbi dan Sangkuriang ini hingga kini masih dipercaya sebagai bumbu adat istiadat masyarakat Sunda sehingga melalui cerita mitos ini bisa di prediksi bahwa masyarakat Sunda kontemporer pun seperti saat ini masih memiliki kepercayaan tinggi terhadap cerita-cerita mitologi ini.

Kembali ke masalah gempa bumi ketika dikaitkan dengan cerita mitos, contohnya  saat gempa bumi di tanah Sunda ini konon ada relevansinya  dengan wangsit Prabu Siliwangi, “uga keyeup bodas” ada kepercayaan masyarakat soal mitologi cerita kabuyutan yang bisa jadi  tidak diimbangi dengan fakta ilmiah dan riset geotekhnologi sehingga akan mengkaburkan esensi permasalahan sebenarnya.

Entah sesar lembang yang dianggap keyeup bodas dan kemudian konon akan menimbulkan bencana gempa bumi yang dilanjutkan dengan bencana-bencana besar lainnya di Jawa-Barat ini benar dan ada relevansinya dengan prakiraan para ahli, atau merupakan mitos yang nantinya akan hilang dengan sendirinya. Cerita horor yang berbau mitos ini memang primitif ini ternyata masih ada yang mempercayainya

Deteksi Dini Dan Soal Mitigasi Bencana

Terlepas dari semua itu seperti disampaikan Kepala Dinas Sosial Propinsi Jawa-Barat Arifin H Kertasaputra dalam sambutannya saat penutupan pelatihan kampung siaga bencana di Subang yang mengatakan bahwa warga Jawa- Barat belum betul-betul siap dengan bencana alam

Kota Cantik Atau Kota bermitigasi ?

Ada kekhawatiran ketika penulis mengajak warga berbincang  soal gempa yang bisa saja terjadi kapan saja dan atau yang diprediksi ahli diakibatkan pergeseran lempeg/ sesar Lembang

warga malah membicarakan gempa seandainya terjadi penuh rasa  bingung dan mereka membayangkan hal itu terjadi tentu dengan rasa  takut jika rumah, toko, dan apapun yang mereka miliki  punah karena gempa tersebut

Ironinya, Perkembangan zaman memang “memaksa” perubahan budaya manusia kota dan manusia desa Indonesia, bukan hanya budaya konsumerisme, tapi juga hobi pelesir menyambangi tempat-tempat indah sekedar untuk berfoto ria? Dan kesadaran masyarakat agar ‘ngeh’ atau sadar bencana relatif kurang. Sikap tak peduli atau enggan bersiap dengan segala kemungkinan terburuk jika terjadi gempa

Ya inilah wajah kebanyakan anak bangsa saat ini, padahal dengan ancaman yang dilansir dari media mengenai dampak gempa atau dari bencana selain itu selalu mengancam masyarakat. bahkan ahli Mengatakan Kemungkinan buruk yang bisa terjadi di  kota Bandung jika gempa bumi karena

“Kota Bandung di prediksi akan alami Kerusakan Terparah, Lewat kajian yang dilakukan sejak tiga tahun lalu Pusat Penelitian Mitigasi Bencana menghitung kerugian hingga 51 Trilyun dengan perhitungan 2,5 juta rumah rusak dan 500 ribu diantaranya rusak total” demikian ditulis di PR

Jadi adakah contoh kota siap gempa di dunia yang dapat ditiru oleh para kepala Daerah di daerah-daerah rawan Gempa di Jawa-Barat atau seolah kesiapan warga diukur dengan alarm Tsunami yang ditargetkan jika suatu saat terjadi gempa warga siap, latihan simulasi menghadapi bencana, sosialisasi bangunan berstruktur tahan atau siaga gempa

Mungkin ini bisa jadi renungan ketika BPBD mengatakan banyaknya korban pada gempa Pidie Jaya lebih banyak disebabkan hancurnya gedung-gedung yang setelah dicek konstruksi dan standarnya memang tidak dibuat untuk konstruksi bangunan tahan gempa

Sebagai makhluk yang beragama seyogyanya kita berharap Alloh SWT Tuhan yang maha esa melindungi kita dari kesengsaraan hidup yang diakibatkan  bencana salah satunya gempa namun sikap dan perencanaan diri membangun lingkungan yang tahan dan siaga  gempa tetap diperlukan***

Wallohu A’lam Bishowab

Oleh : M. Ridwan
Penulis adalah wartawan Mediajabar.com

Comments

Redaksi: Jl. R.A. Kartini No 8A Kabupaten Subang, Jawa Barat 41285

Tlp: (0260) 4240904 atau SMS/WA: 085 224 950 462 - Email: redaksi[@]mediajabar.com

© MEDIAJABAR.com - 2016. MEDIAJABAR.com tidak bertanggung jawab atas berita dari situs luar

To Top