Opini

Logika Politik Peci Kang Emil

Ridwan Kamil bersama sang Istri

Salah satu yang menjadi ciri khas Wali Kota Bandung Ridwan Kamil (RK) adalah peci hitam yang selalu ia kenakan saat hadir di forum-forum resmi, maupun informal. Peci keluaran toko peci M. Iming, yang memang dikenal sebagai produsen peci terkemuka di Bandung, senantiasa ia gunakan yang kemudian menjadikan RK identik dengan sosok wali kota berpeci.

Jika mau menelaah – dapat ditelusuri dengan googling di internet, kebiasaan RK mengenakan peci tidak dilakukan secara tiba-tiba. RK tidak menggunakan peci sebagai sebuah atribut politik. Ia juga tidak menggunakannya dalam konteks membangun image dan pencitraan karena pilgub Jabar sudah mendekat. Mendadak santri? Rasanya tidak begitu.

Sejak pertama kali memangku jabatan wali kota, artinya sejak empat tahun lalu, RK alias Kang Emil sudah mulai mengenakan peci. Bagi RK, peci adalah identitas kebangsaan. Sama seperti yang juga menjadi pandangan presiden RI pertama Bung Karno yang menganggap peci sebagai identitas lelaki indonesia, yang tidak merujuk kepada pemeluk agama Islam belaka. Bagi Bung Karno, peci adalah simbol pergerakan dan perlawanan terhadap penjajah.
RK yang sangat mengidolakan Bung Karno, tak ingin sendirian mengikuti jejak Bung Karno dengan selalu mengenakan peci. Sejak tahun 2014 dalam kapasitasnya sebagai wali kota, RK membuat surat edaran yang mewajibkan kepada PNS laki-laki Kota Bandung untuk mengenakan peci setiap hari Jumat. Jika logikanya kebiasaan mengenakan peci ini agar RK terkesan mendadak santri. Maka, RK mengajak kepada seluruh PNS laki-laki di Kota Bandung untuk menjadi santri sejak tahun 2014 lalu. Rupanya RK tidak ingin menjadi santri sendirian. Ia ingin seluruh PNS laki-laki di Kota Bandung juga menjadi santri seperti dirinya.

Tulisan ini memang sengaja dibuat untuk mengomentari artikel berjudul “Metamorfosis Politik Ridwan Kamil” yang ditulis pakar komunikasi dan media Hersubeno Arief, serta artikel “Kopiah Ridwan Kamil vs Kecerdasan Rakyat”, oleh Supriyatno Yudi, seorang praktisi komunikasi publik, di media di kolom ini pada MInggu 7 Mei 2017 lalu.
Selain urusan peci. Keduanya juga menyoal logo yang dibuat oleh RK dan timnya saat pilwalkot tahun 2013 dengan logo yang rencananya akan digunakan RK untuk kontestasi pilgub tahun 2018 mendatang. Pada pilwalkot 2013 desain kacamata dengan jambul, sedangkan untuk pilgub 2018. Kacamata tetap dipertahankan, namun jambul sudah hilang diganti dengan kopiah atau peci. Demikian menurut Hersubeno dan Supriyatno Yudi.

Memang demikian kenyataannya. Pada saat pilwalkot logo kacamata dengan jambul, dipilih karena sasaran pemilih adalah anak-anak muda Bandung yang memang cukup potensial sebagai pemilih. Seiring waktu, RK juga sudah tidak muda lagi, walaupun semangatnya masih tetap muda. Usianya saat ini sudah mendekati paruh baya. Desain logo pun tentu harus menyesuaikan dengan segmen pemilih di Jabar yang lebih bervariasi. Logopun otomatis harus berubah, tidak lagi jambul tapi dengan peci atau kopiah. Biar “move on” kata anak muda jaman sekarang, sekaligus agar dinamis dan tetap kekinian. Sesederhana itu saja sebenarnya.

Modal yang dimiliki RK untuk maju ke pilgub Jabar adalah usianya yang masih relatif muda, energik, dan cerdas, serta memiliki pengalaman dalam menata kota Bandung, ibukota provinsi Jabar. Ini dikombinasikan dengan latar belakang dirinya yang memiliki akar kuat pesantren. Akar sejarah keluarga pesantren ini, harus dicatat tidak datang tiba-tiba. Bukan by design dibuat dan diada-adakan untuk mencitrakan RK sebagai turunan pesantren, dan bagian dari political branding seperti asumsi Bung Hersu.

Faktanya RK memang adalah turunan pesantren. Kakeknya KH. Muhyidin adalah pendiri pesantren Pagelaran di Subang dan salah seorang tokoh pejuang kemerdekaan. Tentu saja, untuk urusan ini RK tidak bisa memilih lahir dari orang tua yang merupakan anak pendiri pesantren. Sudah takdirnya RK lahir dari keluarga pesantren.
Oleh karena itu, sah-sah saja jika kemudian pesantren Pagelaran di Subang, dan jaringan komunitas pesantren se-Jawa Barat mengundangnya. Ini ibarat orang tua yang memanggil anaknya pulang. Selain itu, selalu dalam setiap kunjugan ke pesantren inisiatifnya tak pernah datang dari RK. Selalu dari pesantren-pesantren di Tasikmalaya, Sukabumi, Cirebon, Indramayu yang ingin bersilaturahmi dan berdiskusi dengan RK.
Program-program Keagamaan Pemkot Bandung

Dua tulisan tersebut juga menyentil berbagai upaya RK untuk terlihat sebagai pemimpin muslim. Padahal, sebagai pemimpin kota Bandung yang memiliki warga mayoritas memeluk agama Islam, RK telah banyak menghadirkan program-program keislaman tanpa harus mengaitkannya dengan kontestasi Pilgub.

Sejak tahun lalu, RK diantaranya telah menginisiasiasi program Magrib Mengaji di 2000-an masjid se-kota Bandung. Anak-anak usia SD/SMP wajib pergi ke masjid untuk tadarus dan membaca Al Quran. Pemerintah Kota Bandung bahkan menganggarkan hingga Rp 6 Milyar untuk kesejahteraan guru mengaji.

Pemerintah Kota Bandung juga sejak tahun 2015 melaluncurkan program “Ayo Bayar Zakat” via aplikasi di ponsel yang pada tahun 2017 ini, mampu meningkatkan potensi zakat hingga 6 kali lipat, dari semula hanya 6 milyar pertahun menjadi 30 miliar

Inisiatif lain, pemerintah Kota Bandung menggelar Gerakan “Shalat Shubuh Berjamaah” di masjid-masjid se-Kota Bandung, minimal seminggu sekali. Wali Kota, Wakil Wali Kota, Sekretaris Daerah, dan aparatur kewilayah di masing-masing wilayah, secara rutin berpartipasi dalam program ini, yang tak hanya menjadi aktifitas ibadah, melainkan juga ajang silaturahmi pimpinan Kota Bandung dengan warga.

Di Kota Bandung, Ulama dan Umaro di Bandung sangat kompak. Pemerintah Kota Bandung menggelar pengajian rutin sebulan sekali dengan para ulama se-Kota Bandung di rumah dinas Pendopo. Selain memperdalam pemahaman ilmu agama, juga diperkaya pembahasan urusan-urusan sosial kemasyarakatan yang memerlukan pembahasan oleh ulama dan umaro.

Sejak tahun 2016 ini, pemerintah Kota Bandung merencanakan membangun gedung Pusat Pengkajian Al-Quran (LPTQ) di kawasan Gedebage yang terdiri dari lima lantai agar kajian-kajian Al Quran makin berkembang pesat di tatar parahyangan. Harapannya, anak-anak di Kota Bandung tumbuh menjadi generasi Qurani.

RK juga menaruh perhatian besar pada upaya pembinaan MTQ di Kota Bandung yang dilakukan dengan optimal. hasilnyapun menggembirakan. Kota Bandung meraih juara 6 kali berturut-turut pada gelaran MTQ se Jawa Barat. Pemerintah Kota Bandung memberikan bonus untuk Qori/Qoriah terbaik dengan memberikan kesempatan beribadah haji secara gratis.

Pada tahun 2016, Kota Bandung terpilih sebagai Kota paling islami se Indonesia menurut survey Maarif Institute karena praktek nilai-nilai ke-madanian Islam dalam aktifitas keseharian warga di Kota Bandung. Pemerintah Kota Bandung pun saat ini tengah menyiapkan program dakwah digital (persiapan) untuk melawan banyaknya konten-konten negatif di media sosial.

Program-program ini, sekali lagi tidak dibuat dalam konteks menyambut pilgub Jabar, tapi murni didesain sebagai bagian dari upaya mewujudkan Kota Bandung yang memiliki semangat keagamaan tinggi. Kehidupan beragama di kota Bandung semarak karena dukungan kuat pemerintah Kota Bandung dan wali kotanya.

Di luar program-program keislaman yang diiinisiasinnya, RK sejatinya adalah sosok yang sangat faham isu pluralisme dan keberagaman. Karena pernah tinggal untuk studi dan bekerja di luar negeri, RK tahu dan sadar betul rasanya menjadi minoritas. Ia tahu bagaimana harus bersikap, hidup bertetangga dengan saling menghormati dan menghargai orang-orang yang berbeda keyakinan dan latar belakang.

Pengalaman untuk menghargai dan menghormati perbedaaan inilah, yang menjadi salah satu landasannya dalam bersikap saat RK menerima amanah menjadi Wali Kota Bandung. Sebagai seorang muslim, RK ingin menjadi pribadi yang bermanfaat bagi orang lain. Ia senantiasa berpegang kepada hadist Rasullullah Saw: Khoirunnas anfa’uhum linnas. Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi sesama manusia. Inilah salah satu yang menjadi pegangan hidupnya. Ia ingin hidup di dunia dengan memberi manfaat dan menebar kebaikan pada sesama.

Namun disisi lain, sebagai Wali Kota, RK tidak hanya menjadi milik satu agama dan satu golongan. Ia adalah pemimpin semua golongan dan seluruh warga. Pembelaan terhadap agama Islam yang dianutnya tak lantas menjadikan RK dapat berlaku tak adil bagi pemeluk agama lain. RK pun mendefinisikan Islam sebagai rahmatan lil alamin. Agama rahmat yang sejuk dan damai. Itulah cara RK dalam membela agama sekaligus berusahada adil dalam kapasitasnya sebagai pemimpin Muslim.

RK menginisiasi beragam program dan gerakan keislaman sambil terus mengedepankan nilai-nilai toleransi, keadilan proporsional serta melindungi aktifitas ibadah-ibadah non-muslim dengan cara yang baik dan mengedapankan nilai-nilai Pancasila. Itu pula yang menjadi alasan saat RK memposting ajakan kepada warga untuk datang ke masjid setiap subuh, Ia juga tak lupa mengingatkan umat Nasrani untuk datang ke beribadah gereja setiap hari Minggu.

Termasuk dalam hal pendirian rumah ibadah, khususnya untuk kalangan non muslim yang juga diberikan secara proporsional. Saat ini, berdasarkan data dari bagian humas kota Bandung, terdapat 4000an masjid dan mushola, 164 gereja, 14 pura dan 23 vihara. Selain itu, pemerintah Kota Bandung juga sepanjang tahun 2007 – 2017 telah memberikan 336 rekomendasi kegiatan keagamaan, yang terdiri dari 38 rekomendasi izin pendirian tempat ibadah, dan 213 rekomendasi kegiatan keagamaan dan hari besar agama melalui kementerian agama Kota Bandung.
Dukungan Parpol ke Kursi Gubernur Jabar

Sejatinya, hingga saat ini RK adalah pemimpin daerah yang bukan merupakan kader partai manapun di Indonesia. Saat mencalonkan diri sebagai Wali Kota Bandung pada 2013, lalu RK bersatus PNS dan dosen di ITB. Ia diusung oleh PKS dan Gerindra sebagai profesional. Latar belakangnya RK yang arsitek dan ahli tata kota dinilai mampu menghadirkan perubahan di Kota Bandung.

Pun, saat menghadapi kontestasi pilgub Jabar tahun 2018 mendatang, RK sebenarnya bukan siapa-siapa di mata partai politik. Kecuali sosok yang karena populer di media masa dan media sosial, serta banyak digadang-gadang pantas dan memiliki kapabilitas untuk memimpin Jawa Barat selama lima tahun ke depan.

Setiap partai politik tentu memiliki ukuran, kriteria, dan cara pandang sendiri-sendiri dalam memilih sosok yang akan diusungnya sebagai calon pemimpin daerah, yang boleh saja tidak sama dari satu daerah ke daerah lainnya, dari satu calon ke calon lainnya. Selain itu, kapan saat yang tepat sebuah parpol mendeklarasikan dukungan kepada calon yang diusungnya pun selalu menjadi sebuah misteri yang sulit untuk diprediksi. Bisa hari ini, esok, atau nanti. Bahkan boleh jadi tidak memberi dukungan sama sekali.

Sebagai figur independen, RK sifatnya hanya bisa menerima dengan baik aspirasi siapapun yang berniat baik mendukung. Adabnya adalah berterima kasih ketimbang menolak yang terkesan sombong. Toh, buat RK keputusan dukung atau tidaknya masih jauh. Esok lusa ada tambahan dukungan ia siap menunggu. Jika pun ia tidak didukung partai politik, ia sudah akan sangat siap menerima takdirnya.

Setiap pilihan situasi politik selalu ada yang suka juga tidak suka. RK sudah melaluinya di tahun 2013. Setengah pertemanannya balik kanan karena tidak suka ia maju pilwakot didukung partai. RK merasa Sedih? tentu saja. Tapi saat itu ia mampu melewati prosesnya dengan ikhlas. Dan dibuktikan dengan bekerja dengan maksimal saat terpilih jadi wali kota.

Maka. Ketika partai Nasdem yang memiliki 5 kursi di DPRD provinsi Jawa Barat, mendeklarasikan dukungan kepada RK untuk maju sebagai bakal calon gubernur, RK tentu harus berterimakasih atas dukungan dan deklarasi ini. Dalam pertimbangan RK, masa orang mendeklarasikan dukungan ditolak. Dari sisi kesantunan dan etika politik, juga tidak elok dan tak pantas seorang Wali Kota berprestasi seperti RK menolak dukungan yang diberikan kepadanya. Apalagi dukungan disampaikan di Kota Bandung, tempat ia tinggal dan menjadi wali kota. Sebagai tuan rumah yang baik, adab dan kepatutan yang berlaku adalah keharusan untuk menghormati dan memuliakan tamunya.

Namun etika dan kesantunan politik yang ditunjukan RK, malah dinilai sebagai langkah keliru. RK disebut tak tahu balas budi, anak nakal, dan yang lebih menyeramkan, disesalkan banyak orang karena bersekutu dengan partai penista agama. Tidak dapat dipungkiri, dalam pilgub Jakarta, Nasdem mendukung Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok yang didakwa menista agama. Namun, untuk pilgub Jabar, apakah label partai pendukung penista agama ini masih melekat juga?

Padahal jika mau jujur, selain Nasdem, masih ada juga partai-partai lain termasuk Golkar dan dua partai Islam yang mendukung Ahok. Namun mereka luput dari sebutan partai penista agama. Standar Ganda? Inilah logika politik. Segera setelah menderima dukungan Nasdem, beragam fitnah pun segera saja menghantam sosok wali kota berprestasi ini. Sejak tudingan penganut syiah, hingga pendukung LGBT. RK menerimanya dengan kesadaran sebagai konsekuensi terjun ke politik.

Untuk urusan pilgub Jabar ini, RK meyakini, tidak ada keniscayaan dalam politik. Siapapun parpol pengusungnya baru akan jelas saat pendaftaran ke KPUD pada sekitar bulan Februari 2018. Itu artinya masih 10 bulan lagi. Selama masa itu, RK terus melakukan komunikasi politik, sembari tidak melupakan amanat untuk terus bekerja melayani warga Kota Bandung hingga akhir masa jabatan nanti.

Demikian juga dengan kesediaan untuk mendukung Jokowi menjadi presiden tahun 2019, seperti yang disyaratkan oleh Nasdem. Apakah kalkukasi politik sudah sangat meyakinkan dan terang benderang Jokowi akan kembali manggung pada 2019 nanti? Apakah ada yang dapat menjamin secara sahih sekaligus mampu membuktikan pada 2019 nanti Jokowi akan kembali mencalonkan diri dan terpilih sebagai presiden? Bagaimana kalau yang terpilih adalah sosok lain di luar Jokowi? Bagaimana pula jika Jokowi dan Prabowo berpasangan? Poinnya adalah apapun dalam politik bisa bisa saja berubah. Tahun 2019 masih sekitar dua tahun lagi. Sabar saja, tak perlu buru-buru.
Bung Hersubeno juga menilai RK tidak konsisten karena keberaniannya mengaosiasikan diri dengan Ahok. Pengasosian itu dibuktikan saat RK keynote speaker dalam acara Transforming Lives Human and Cities: How Social and Green Can We Go yang digelar oleh Lippo Group (2/5/2017), dimana RK berkali-kali memuji pembangunan Jakarta dan tangan dingin Ahok dalam membangun Jakarta menjadi lebih baik.

RK juga ditulis sangat kagum dan belajar banyak dari Ahok. Menurutnya, Bandung dan Jakarta sama. Untuk mengubah kota yang memiliki citra tingkat korupsi tinggi dan birokrasi buruk, dibutuhkan pemimpin atau kepala daerah yang bermental baja, berani dan tak takut didemo.

Ahok dan RK adalah sosok pemimpin daerah yang memiliki permasalahan yang hampir sama dalam mengelola daerah yang dipimpinnya. Dalam konteks ini, saling mengapresiasi dan menyemangati antara pemimpin daerah merupakan sebuah hal yang biasa. Bagaimana mungkin pernyataan yang dibuat sebagai sebuah apresiasi dan upaya menyemangati disebut upaya mengaosiasikan diri. Rasanya terlalu berlebihan Bung Hersu ini.

Ditambahkan Bung Hersu, ucapan ini disampaikan RK saat Ahok sudah dipastikan kalah. Dalam istilah sunda, apa yang disampaikan RK adalah sebuah pangbeberah manah. Sebuah ungkapan menghibur hati untuk mereka yang sedang dalam kesedihan. Tapi tak hanya menghibur Ahok, RK juga turut mengucapkan selamat kepada Anies-Sandi melalui tweet dengan harapan terpilihnya Anies – Sandi menjadikan Jakarta kota yang lebih manusiawi.

Sebagai pakar komunikasi dan media, Bung Hersu juga menekankan bagaimana tingginya pengaruh para pemberi pengaruh (influencer) terhadap warga, terlebih di era ketika world of marketing (WOMM) berperan dengan sangat dahsyat. Sebagai seorang seleb di medsos (pengikutnyadi Twiter, 2,7 Juta dan di IG, 5,6 juta) RK bukanlah sosok yang bisa mengajak dan menghasut orang untuk tidak memposting hal-hal yang buruk tentang dirinya. Bebas saja, dihujat netizen pun sudah biasa.

Oleh karena itu, meskipun dirinya termasuk sosok Wali Kota Bandung yang cukup populer, tak mungkin menghalangi atau meminta sosok populer dan dipercaya seperti Aa Gym untuk tidak mentweet kriteria pemimpin yang harus dipilih. Bagaimanapun RK tetap menghormati Aa Gym sebagai salah satu ulama terkemuka di Kota Bandung.

RK mungkin masih politisi bau kencur. Dalam kepolosannya ia kerap melakukan blunder yang tidak perlu yang pada akhirnya merusak reputasinya sendiri, yang sudah baik dan lama terbangun. Tapi, RK juga tak ingin menjadi politisi yang jaim. Politisi yang selalu menampilkan kesan baik, dan menutupi hal-hal buruk yang ada pada dirinya. Dalam hal ini mungkin RK harus belajar menjadi politisi yang paripurna, yang bisa diterima semua orang, kawan maupun lawan.

Namun, artikel bernas yang ditulis Bung Hersu tetap merupakan saran dan masukan yang penting bagi RK untuk melangkah dan menapaki hari-hari menjelang pilgub Jabar yang semakin mendekat. Narasi yang disampaikan Bung Hersu merupakan nasehat yang sangat berharga yang harus dianggap sebagai kanyaah (rasa sayang) dan kepedulian Bung Hersu kepada RK, mengingat Bung Hersu dan Bung Supriyatno Yudi adalah tim konsultan media RK pada saat pilwakot 2013 lalu.

Arfi Rafnialdi
Penulis adalah Sekretaris Tim Pertimbangan Kebijakan Wali Kota Bandung

Comments

Redaksi: Jl. R.A. Kartini No 8A Kabupaten Subang, Jawa Barat 41285

Tlp: (0260) 4240904 atau SMS/WA: 085 224 950 462 - Email: redaksi[@]mediajabar.com

© MEDIAJABAR.com - 2016. MEDIAJABAR.com tidak bertanggung jawab atas berita dari situs luar

To Top