Opini

Menerka Arah Perkembangan Ruang Publik Kabupaten Subang

Teguh Deni Aljabar

Mewujudkan smart people sebagai salah satu indikator dari smart city, salah satunya adalah dengan mengupayakan kemudahan masyarakat mengakses ragam informasi publik, dilihat dari berbagai perspektif, terlebih dari kacamata peran dan fungsinya ruang terbuka publik dipandang perlu sebagai alternatif pengejawantahan konsepsi smart city. Mengingat ruang publik berperan besar dalam perkembangan kota dan masyarakat baik dalam segi sosial, budaya dan politik (Katalin Vedredi, 2014). Ruang publik seperti kata Habermas muncul merupakan prasyarat yang harus dimiliki dan dikembangkan dalam negara yang menganut sistem demokrasi demi menjamin tercapainya ideal-ideal yang terkandung dalam penyelenggaraan suatu pemerintah yang demokratis.

Dalam bukunya The Structural Transformation of the Public Sphere; an Inquiry into a Category Bourgeois Society (1989) secara ringkas Habermas membahas dua tema pokok mengenai ruang publik, pertama analisis mengenai asal mula dan kemunculan ruang publik borjuis, kedua perubahan struktural ruang publik di zaman modern, khususunya pada abad 18 dan 19 sengan ditandai organisasi-organisasi yang bergerak dalam ekonomi serta kelompok bisnis yang besar dalam kehidupan publik.

Terlepas dari terbentuknya gagasan tersebut, secara realitas pembanguna raung publik disatu sisi menjadi prioritas dalam pembangunan kota hari ini. Ruang terbuka publik dalam Permendagri No. 1 tahun 2007 tentang penataan Ruang terbuka Hijau Kawasan Perkotaan, adalah ruang-ruang di dalam kota atau wilayah yang lebih luas, baik dalam bentuk area/kawasan maupun dalam bentuk area memanjang/jalur dimana dalam penggunaanya lebih bersifat terbuka yang pada dasarnya tanpa bangunan. Secara historis Stephen Carr, dkk (1992), memberikan jenis tipologi ruang terbuka publik yakni: (1) Taman-taman publik (public parks); (2) Lapangan dan Plaza (squares and plaza); (3) Taman Peringatan (memorial parks); (4) Pasar (markets); (5) Jalan, termasuk terotoar pejalan kaki; (6) lapangan bermain; (7) ruang terbuka untuk masyarakat; (8) Jalan hijau dan jalam taman; (9) Atrium/pasar tertutup (atarium/indoor market place); (10) Ruang terbuka yang dapat diakses oleh publik; (11) Tepi laut pelabuhan, pantai, tepi sungai, danau, darmaga.

Jika kita merupujuk pada tipologi ruang terbuka diatas, maka ada beberapa hal yang berkaitan dengan perkembangan Kabupaten Subang hari ini, sebutlah pada taman-taman publik (public parks), beberapa jenis dari taman publik adalah taman publik/pusat (public/central park), taman di pusat kota (downtown parks), taman lingkungan (neighbourhood parks), taman mini (mini/vest-pocket parks). Coba kita tengok Alun-Alun Subang, Wisma karya, Hutan Kota Ranggawulung, Taman Teritorial, dan masih banyak yang lainnya, hingga Taman Wisata Swadaya Delta Park yang berlokasi di Perumahan RSS Sidodadi Kelurahan Pasir Kareumbi baru-baru ini diresmikan oleh Bupati. Hal ini menunjukan bahwa kehadiran taman-taman publik yang baru ataupun yang telah ada sebelumnya bukti perkembangan penataan kota sesuai potensi dan tantangan kondisi sosial hari ini.

Penggunaan ruang publik, khususnya Alun-alun merupakan hal yang penting untuk diperhatikan (Caroline Holland et al. 2007). Karena disadari ataupun tidak Ruang publik merupakan bagian dari struktur kota yang memiliki fungsi sebagai tempat untuk beinteraks masyarakat kota, sarana komunikasi antar warga, tempat untuk berdiskusi, berekspresi serta tempat bermain anak-anak masyarakat kota (Juanita dan fendi, 2012). Adapun fungsi-fungsi strategis Ruang publik khususnya taman kota yakni meningkatkan kualitas kota, prestise dan reputasi, memicu kemajuan ekonomi, merangsang social capital, menciptakan stablitas sosial dan politik, dan menciptakan competitve advantage (Eko Laksono:2013).

Namun kehadiran ruang publik disertai pula berbagai permasalahan, yang secara mendasar Permasalahan ini salah satunya merupakan perbedaan persepsi mengenai ruang publik (katalin Vedredi, 2014). Seperti halnya menurut Mujiarto; (2011) okupsi ruang publik oleh pedagang kaki lima dan tunawisama, penggunaaan ruang publik menjadi sarana penguasa untuk menutupi keterbatasan serta penggunaan ruang publik yang sering menimbulkan kekacauan dan kerusakan fasilitas. Terlebih bagaimana masyarakat kota yang bermukim di kampung kota menganggap ruang publik, seperti halnya trotoar, taman bagian dari optimasi ruang publik yang tidak digunakan, ini sebagai akibat dati tingkat penggunaan ruang publik yang sangat minim atau merupakan bagian dari alternatif ruang ekonomi yang semakin sempit (Roni et al 2013).

Disinilah perlunya manajemen ruang publik, dikatakan ada tiga aspek dalam manajemen ruang publik yang dipakai di Rockefeler Centre USA dalam project for public space adalah pelayanan kota, pasar pusat kota, dan desain ruang kota (Darmawan, 2009:83). Dalam hal ini pelayanan kota, tugas paling utama adalah perawatan (maintenance), keamanan (security), dan manajemen transportasi (transfortation management), sehingga para pengguna ruang publik merasa nyaman dan aman dalam menggunakan semua fasilitas ruang publik. Terpenting hari ini bagaimana kita bersama menjaga keberadaan ruang publik dalam bentuk apapun demi kemaslahatan bersama, walaupun secara gambalang kita tidak tahu arah perkembangan ruang publik di Kabupaten Subang hari ini.

Teguh Deni Aljabar
Penulis buku “Lentera Kampus Penerang Bangsa”. Alumin STKIP Subang sekaligus Founder ‘Ngampar Emperan’

Comments
To Top