Opini

Smartphone, Robot dan Manusia a Sosial

Menurut Sosiolog Auguste Comte manusia pada akhirnya akan berada pada tahap mempercayai karya sains yang emprik.

Ketika mata manusia melirik hal ini tentu saja terkadang hilang dari mereka kepercayaan kepada karya Tuhannya dan karya-karya abstrak manusia, kurang lebih itu yang disimpulkan dari pemikiran seorang Auguste Comte yang sangat  percaya bahwa pendekatan ilmiah adalah untuk memahami masyarakat yang menurutnya  akan membawa pada kemajuan kehidupan sosial yang lebih baik.

Saat ini ada pekerjaan rumah dengan apa yang terjadi saat ini ketika manusia dilanda “badai tekhnologi” yang kencang dan seperti puting beliung yang memiliki pusaran angin yang meluluh lantakkan apa yang ada disekitarnya. Ya seperti angin puting beliung.

Kencangnya “angin” media sosial, jagad maya  the borderless word dan kehidupan serba paperless membawa siapapun, tua-muda, miskin-kaya, rakyat-pejabat pada pusarannya.

Setelah secara sosiologi  ditelusuri  tentu saja akar dari perkembangan otak manusia jika dikaitkan dengan karya manusia yang bernama tekhnology yang jika  penulis analogikan seperti di film-film barat bak  sebuah virus yang menyebar liar, badai yang menerjang,bahkan diantara film-film barat ada yang secara khayal  menceritakan  diciptakan sebuah virus untuk tujuan baik malah berubah menjadi sesuatu yang menyerang peradaban yang menciptanya

Perkembangan tekhnologi dengan pandangan evolusioner tersebut kemudian  menjadi asumsi  bahwa masyarakat, seperti halnya organisme, berkembang dari sederhana menjadi rumit dan entah dengan karya-karyanya, menurut Comte tentunya

“Badai” Smartphone

Era smartphone era ponsel cerdas datang dengan cepat, bagaikan Tsunami tekhnologi hampir semua orang dipengaruhi oleh sebuah karya zaman bernama tekhnology, interkoneksi, media sosial, internet dan layanan multi aplikasi membuat manusia mulai meninggalkan contohnya ” buku bacaan kertas, kelender kertas, koran dan majalah kertas berubah menjadi dunia paperless.

Berubah Dari Mudah menjadi Rumit?

Seolah tidak karena secara kasat mata tidak seperti itu ; Sepertinya tidak Ada sebuah kekhawatiran ketika seseorang mengkagumi, tergilai oleh karya tangan-tangan manusia, menyukai memprioritaskannya.

Smartphone di genggaman, googling, multi aplikasi tak peduli kocek jebol karena kuota, asal bisa ‘ngutek-ngutek’ diam tak beersuara, tanganlah yang bicara, tak peduli lagi orang disekitarnya. Dikalangan remaja-anak anak gaming menjadi pilihan nomor wahid selain itu bermedsos ria membuat mereka terkadang dijauhkan dari kehidupan asli mereka. Dan kini banyak ditemui anak-anak gagap generasi ‘utek-utek’ yang berjam-jam ngamar, tanpa bahasa lisan,

Dampak negatif, virus, racun atau apapun namanya dari perkembangan tekhnologi mutakhir bernama smartphone ini mau tak mau akan menimbulkan problem sosial bahkan bisa merubah karakter seseorang entah karena sebuah halusinasi atau karena sebab lainnya

Pengaruh game, dan carapandang seseorang yang tanpa interaksi dengan manusia lainnya karena bagaimanapun menurut penulis tekhnlogi itu benda mati

Ketika ruang kerja dipadati manusia serba update, manusia lupa bahwa dirinyalah pemeran utama dalam “film” ini. Manusia robot, manusia mesin, manusia komputer adalah makhluk kaku yang a sosial

Manusia yang punya mind, rasa adalah makhluk sosial yang memiliki interaksi dengan budaya komunikasi yang dikembangkan sejak zaman purbakala oleh manusia-manusia kuno. Dizaman yang berbeda manusia modern tetap memiliki budaya komunikasi dengan karakter humanisme dalam peradaban berbeda pula. Bukan pisau dari batu-batuan tapi sebuah alat modern bernama smartphone yang didalamnya diciptakan manusia dengan zaman berbeda

Wallohu A’lam Bishawab

Oleh : Lina Linawati, S.Kom
*Penulis Adalah alumni STIMIK Sumedang /pemerhati masalah TIK Subang

Comments
To Top