Opini

Berangus Rentenir!

KOPERASI sebagai sokoguru ekonomi masyarakat Indonesia didirikan oleh Bung Hatta yang bertujuan agar masyarakat Indonesia bisa merasakan perekonomian unggul yang dibangun atas filosofisnya koperasi, dengan tujuan mulia …

Bunga berbunga, sita aset, pemaksaan pembayaran pinjaman, pembayaran ikrar dan sistem tagih dan tanggung jawab berjama’ah dalam pinjaman menjadi paradoks tujuan koperasi itu sendiri walaupun bernama koperasi simpan pinjam.

Rakyat menjerit setelah senang mendapatkan uang hanya dengan selembar fotocopy ktp/kk, setelah itu setoran yang problematis, pinjam ke Bank konvensional syaratnya disebut ribed walaupun bunga murah. Sosialisasi minim dan belum sampai ke tingkat RT juga

Kehadiran Bank Wakaf Mikro yang digagas Masyarakat Ekonomi Syari’ah (MES) di era Presiden Jokowi untuk mengcover kreditur miskin yang biasa “main” di bank keliling, bank embok pada akhkrnya perlu terus disuntik menekan dan “mengharamkan” warga terjerat di rentenir berkedok koperasi.

Bank wakaf mikro sendiri memang dibentuk untuk menjaring pengusaha kecil di daerah yang membutuhkan pembiayaan, tetapi tidak mempunyai akses ke keuangan formal. Skema pembiayaan yang ditawarkan adalah tanpa agunan dengan nilai maksimal Rp 3 juta dan margin bagi hasil setara tiga persen.

“Bank wakaf mikro tanpa jaminan, proses cepat, dan unsur pembinaan dikedepankan. Tidak boleh ambil dana masyarakat juga sehingga fokusnya membina dan menyalurkan,” kata Wimboh, dilansir laman republika.co.id

Ironis memang, kesulitan ekonomi dan miskinnya inovasi pemerintah memberantas rentenir-rentenir berkedok koperasi ini membuat warga terjerembab ke jurang kemiskinan lebih dalam lagi, kapan ada gerakan bersama anti rentenir, kapan ada rembukan nasional “gerakan berjama’ah berangus rentenir berkedok simpan pinjam”.

Karen ini bagian pendidikan karakter bangsa, hanya pemerintah yang mampu melakukan itu dan para anggota legislatif yang mulia, yang seharusnya mendorong terwujudnya peraturan yang bisa menghukum memberi vonis kepada para rentenir.

Pada akhirnya ditengah penilaian kemajuan dan pertumbuhan ekonomi bangsa Indonesia yang tumbuh konon tahun 2018 ini hingga 5,1 persen (INDEF) ada optimisme pengembangan ekonomi secara komprehensif berperadaban dengan penegasan pemerintah dan tindakan pemerintah untuk berantas dan melakukan gerakan nasiobal berantas rentenir, seperti razia lalulintas yang akhirnya memaksa warga berhelm, melengkapi surat-surat kendaraan bermotor dan seperti kantor pajak yang kini akan mendenda warga yang telat mengisi SPPT.

Dikutip dari laman kompas.com, bahwa Pertumbuhan ekonomi pada tahun 2018 mendatang akan ditentukan oleh efektifitas kebijakan pemerintah dalam memulihkan daya beli masyarakat dan menarik investasi langsung yang berdampak pada peningkatan lapangan kerja. Jika ini yang diharapkan kemampuan ekonomi bangsa akan lebih hebat jika Rentenir diberangus hingga akar-akarnya.

Semua Ada jalan, seperti kata Maher Zain,”Insya Alloh”.

M. Ridwan
Penulis Adalah Pegiat Media Online

Comments

Redaksi: KP. Sukarandeg RT 07/04 Desa Gunungsari Kecamatan Pagaden Kabupaten Subang, Jawa Barat 41252

Kontak: redaksi[@]mediajabar.com

© MEDIAJABAR.com - PT Indowarta Xpress Media

To Top