Opini

Rajaban di Pondok Bukit Mahabbah

ADA Suasana lain dalam peringatan Isra dan Mi’raj di Pondok Bukit Mahabbah kampung Puncak Sari desa Cingambul, kecamatan Cingambul kabupaten Majalengka, Ahad (08/04/2018).

Rangkaian acara sejak pagi dengan suasana khidmat penuh pemandangan indah diawali lantunan bacaan-bacaan qur’an anak-anak pengajian diniyyah yang sepertinya luput bantuan pendidikan keagamaan dari pemerintah.

Istilah kampungnya “Imtihan” menguji kemampuan anak dalam mengaji disaksikan para orang tua santri yang berbahagia melihat anaknya membacakan kemampuan ngaji yang bisa jadi orang tuanya kurang mampu dalam urusan seperti itu.

Dan Angin pun Ikut Berdzikir

Ada keunikan ketika anak-anak tersebut tampil, angin kencang bertiup di kawasan Puncak Sari seolah akan merobohkan tenda biru tersebut, namun Al Hamdulillah do’a yang dibacakan mereka bersama para ustadnya disana diijabah Alloh SWT, anginpun reda kembali.

Usai shalat dzuhur suasana tenang mendukung dzikir dan tahlil yang dipimpin Kyai Muda Acep Ateng Rijalulloh dari Ponpes Suryalaya Tasikmalaya, lugas dan jelas diakhiri ceramah panjang tentang Isra Mi’raj nabi Muhammad SAW.

Saya yang ditunjuk sebagai penceramah dalam tabligh akbar ini bahkan kehabisan kata-kata mengurai ceramah yang menurut saya sama-sama bersumber dari kitab dan guru yang sama, saya akhirnya berjanji membuatkan ceramah dalam bentuk opini di media ini, yang harus  saya simpulkan sebagai berikut, dengan sebuah catatan.

Ahmad Hamdani (Berpeci Putih) bersama Pimpinan PBM, Ahmad Jafar

“Bahwa Seorang Ahmad Hamdani asal Tegal Jawa Tengah, santri pondok bukit mahabbah yang memiliki keterbatasan berkomunikasi akhirnya berkat do’a memiliki kemampuan baik saat ini dalam berkomunikasi, bahkan ingin menjadi seorang ahli dzikir”.

Ustadz Budianto sebagai pengajarnya sendiri bahkan mengatakan bahwa kekurangan dia merupakan kesempurnaan Alloh SWT. Ahmad Jafar sang pemilik lembaga ini mengatakan hal senada.”Dia adalah bos (tuan,pen) saya”.

Seorang Ahmad Hamdani yang datang dalam keadaan serba kekurangan dianggap bukan anak biasa, dianggap berprilaku buruk dilingkungannya dulu kini di Pondok Bukit Mahabbah mengalami perubahan besar dalam sikap dan karakternya, inilah uraian hikmah mulia begitu dzikir dan tahlil yang dia ikuti secara rutin menjadi hikmah yang memudahkannya menerima hidayah.

Jika dibandingkan dengan seorang anak “zaman now” yang kadang selalu diukur dengan materi yang tak pernah puas uang jajan diluar rata-rata, uang pulsa dan kuota, hingga uang jalan-jalan serta kemewahan lainnya yang didapat dari orang tuanya, tentu sangat ironis.

Astagfirullahal adzim, begitu sulitnya jika seorang anak mendapat hidayah supaya menyadari kesalahan atau mengevaluasi dirinya tanpa proses amaliyah dan iman. Namun jika dilihat dari kacamata pembelajaran Mi’rajnya nabi, bisa jadi kenakalan dan kekurangan merupakan ujian bagi orangtuanya agar lebih beriman, Seperti rasulullah yang dicoba atau diuji bahkan “digoda” saat beperjalanan spiritual Isra Mi’rajnya.

Ada dua kutub berbeda jika dikomparasi terkait kenakalan seorang anak, Ketulusan si anak manusia berkekurangan dan keserakahan si anak manusia berkecukupan.

Tentu saja, membuat kesimpulan yang ekslusive untuk keduanya sangat sulit, tak cukup dinilai secara komparatif ilmiyah atau adiminitratif pendidikan, perlu pemahaman filosofis yang mengandung peadagogi dan andragogi pendidikan.

Bahkan penelusuran sejarah orang tua yang dipadukan dengan riwayat ibadah shalat mereka bisa jadi pertimbangan ujian seorang ibu dan bapak oleh amanat yang diberikan Alloh SWT yakni anak.

Rajaban di Pondok Bukit Mahabbah Puncksari Cingambul ini bukan rajaban biasa, lihat saja jama’ah yang hadir, lihatlah soal program rihlah do’anya dan betapa kerasnya para pejuang pendidikan di tempat itu walaupun bukan dari kalangan guru berhonor tinggi, ustadz berkecukupan secara materialistis dan bukan lulusan dari perguruan tinggi luar negeri, mereka orang biasa yang diberi “fadlah” oleh Alloh SWT.

Lalu? Mereka seperti telah dicuci lahir dan bathinnya oleh Alloh SWT untuk menjadi orang yang tulus atau ikhlas, cerita seorang Muhammad SAW yang dibelah dadanya dicuci hatinya oleh Jibril AS dengan air zam-zam sebelum bertugas dalam peristiwa Isra dan Mi’rajnya merupakan kajian penting untuk diejawantahkan saat ini.

Kita memang Bukan nabi, tapi kesucian jiwa dalam solat itu penting  untuk menghadapkan ketulusan ketiadaan pamrih melalui perbuatan bernama solat 5 waktu itu, yang sebelumnya berjumlah 50 waktu.”Kuhadapkan wajahku Bagi Tuhan pencipta Langit dan bumi” dalam doa iftitah disaat shalat.

Godaan-godaan Nabi jadi gambaran nyata Umat Akhir zaman

Ini cuma intermezzo, Saya memang berjanji menyampaikan ceramah saya dalam format opini di media, menghargai waktu yang justru “jatah” mubaligh utama malah habis karena banyaknya kegiatan selain Tabligh Akbar, saya hanya menitipkan pesan jaga solat di awal waktu kalau bisa di takbiratul ula (takbir pertama).

Saya pun urung menjelaskan kisah panjang Isra dan Mi’raj nabi muhammad SAW yang diantaranya cerita-cerita godaan terhadap beliau yang bisa dilaluinya, inipun menjadi kisah yang menggambarkan umat nabi Muhammad SAW saat ini.

Biasanya ceramah rajaban saya sekitar 1 jam, tapi ya itu tadi, waktu yang mepet dan sudah masuk waktu solat Ashar membuat saya hanya menyimpulkan ceramah adik kelas saya di Ponpes Al Basyariyah Cigondewah kabupaten Bandung dulu, Kang Acep.

Biarlah, sama saja dengan materi saya yang belum disampaikan tadi, soal ujian, gangguan terhadap Rosulullah selama di perjalanan, luar biasa gaya ceramah khas pesantren dan menjadi pengurus di Ponpes Suryalaya Tasikmalaya.

Usai ceramah, saya langsung bergegas ke tempat wudhu menyegerakan sholat berjama’ah dengan beberapa rekan lain di ruangan, sempat juga bwrpapasan dengan para polisi berwajah “tegang”, mungkin kecapean mengawal para paslon bup/cawabup, didalam hati saya bergumam apa karena saya menyeru takbir? Hahaha tidak juga, karena seperti biasa saya serukan NKRI Jaya.

Mungkin Baper, bisa jadi saya terlalu terbawa perasaan, hehehe karena kecapean berangkat sejak pukul 22 Malam Sabtu, kurang tidur, kurang mulusnya perjalanan, saya hadir karena undangan adik-adik saya para pembela agama, pejuang pendidikan.

Kaget, banyak polisi berseragam dan berpakaian preman dan beberapa orang mirip timses bersuliweran di sekitar acara sebelum saya ceramah, oh ternyata ada salah satu paslon wabup Majalengka yang ikut kegiatan berdzikir beriistigosah di PBM.

Rajaban di Pondok Bukit Mahabbah, sesuatu, keren walaupun ceramah saya cuma tiga menit dan sisanya saya sampaikan melalui kolom ini.

Kata temen saya, “itu nenek-nenek bagaimana bisa buka website tadz?”.

Saya langsung stop pembicaraan lalu menutup kalimat, “Udah ah, ayo pulang keburu malam nanti. Saya pun pulang melalui ruas tol Cipali yang mahal itu dan sampai kembali ke rumah di Subang pukul 22.30 WIB.***

Penulis adalah Jurnalis di Indowarta News Network.

Comments
To Top