Ramadhan

Jadwal Imsak, Shalat dan Buka Puasa di Kota Bandung

Tirto.id

BANDUNG – Awal Ramadhan 1439 Hijriah sudah ditetapkan, seluruh umat muslim diseluruh dunia termasuk di Indoensia mulai melaksanakan ibadah puas sejak hari Kamis, 17 Mei 2018. Untuk itu segala hal harus dipersiapkan, termasuk menyiapkan jadwal waktu Imsak dan berbuka puasa.

Untuk Anda yang merupakan warga Kota Bandung dan sekitarnya, berikut ini redaksi telah menyiapkan jadwal imsak, shalat dan buka puasa selama bulan Ramadhan 1439 Hijriah/2018 Masehi. Jadwal ini diambil dari situs resmi Kementrian Agama Republik Indonesia.

Seperti diketahui, saat ini Kota Bandung menjelma sebagai kota metropolitan di Jawa Barat. Maka dari itu aktivitas manusia di Kota Bandung begitu padat. Sehingga butuh hal-hal yang praktis untuk mendukung aktibitas tersebut, termasuk jadwal imsak, shalat dan buka puasa yang bisa diakses melalui ponsel.

Bagi warga Kota Bandung yang berpuasa, informasi jadwal Imsak, shalat, dan buka puasa penting untuk diketahui, khususnya di lokasi yang jauh dari masjid atau ketika bepergian. Untuk memudahkan, redaksi jadwal Imsak, shalat, dan buka puasa yang bisa dilihat dibagian artikel ini.

Jadwal imasak, shalat dan buka puasa Ramadhan 1439 Hijriah/2018 Masehi – Kementrian Agama Republik Indonesia

Selain bisa melihat jadwal Imsak, shalat, dan buka puasa dilaman Mediajabar.com, Anda juga bisa mengakses situs resmi Kementrian Agama Republik Indonesia untuk terus mengupdate informasi yang lebih akurat mengenai jadwa Imsak, shalat, dan buka puasa Ramadhan 1439 Hijriah.

Untuk memberikan gambaran sedikit mengenai pengertian imsak, berikut ini pengertian imsak yang secara bahasa, imsak adalah saat dimulainya tidak melakukan hal-hal yang membatalkan puasa, seperti makan dan minum; berpantang dan menahan diri dari makan, minum, dan hal-hal yang mem-batalkan puasa mulai terbit fajar sidik sampai datang waktu berbuka (KBBI).

Seperti dikutip dari laman risalahislam.com, imsak berasal dari bahas Arab yang artinya menahan, yakni menahan diri dari hal yang membatalkan puasa. Dari kata Imsak itu terbentuk kata Imsakiyah yang merujuk pada jadwal puasa. Umumnya, waktu imsak dipahami sebagai batas waktu antara sahur dan mulai dari puasa.

Di Indonesia, waktu imsak yaitu 10 menit sebelum waktu shalat Subuh. Adanya waktu imsak ini dimaksudkan untuk berjaga-jaga, agar tidak “bablas”. Jadi, sebenarnya, saat 10 menit sebelum Subuh, kita masih boleh sahur (makan/minum) karena belum masuk waktu puasa/waktu subuh. Sekali lagi, waktu imsak hanya untuk berjaga-jaga.

Imsak sendiri sudah bermanka puasa, karena sudah menahan diri dari makan-minum atau hal lain yang membatalkan puasa.

Zaman Rasulullah Saw dan para sahabat tidak ada istilah imsak. Al-Quran juga dengan tegas menyebutkan, batas waktu mulai puasa itu sejak terbitnya fajar.

وَكُلُواْ وَاشْرَبُواْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّواْ الصِّيَامَ إِلَى الَّليْلِ وَلاَ تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ تِلْكَ حُدُودُ اللّهِ فَلاَ تَقْرَبُوهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللّهُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ

“Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri`tikaf dalam masjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa.” (QS Al-Baqarah: 187)

Dalam hadits shahih, riwayat Bukhari (hadits no. 1919), dari ‘Aisyah r.a., bahwasanya Bilal mengumandangkan adzan pada suatu malam. Kemudian Rasulullah Saw,

كُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يُؤَذِّنَ ابْنُ أُمِّ مَكْتُومٍ ، فَإِنَّهُ لَا يُؤَذِّنُ حَتَّى يَطْلُعَ الْفَجْرُ

“Makan dan minumlah sampai Ibnu Ummi Maktum mengumandangkan adzan. Sesungguhnya dia tidaklah mengumdanngakan adzan hingga fajar terbit.”

Berdasarkan hal tersebut, barangsiapa yang mengetahui terbitnya fajar shadiq (fajar subuh) dengan menyaksikan langsung atau melalui kabar dari orang lain, maka dia wajib meninggalkan makan minum alias mulai berpuasa, hingga tiba waktu shalat Magrib (untuk berbuka puasa).

Imsakiyah biasa menjadi patokan waktu sahur. Sahur sendiri disunahkan karena mengandung berkah, antara lain membuat fisik jadi kuat saat berpuasa.

“Senantiasalah umatku berada dalam kebaikan (Puasa) selama mereka menyegerakan berbuka dan melambatkan sahur.” (HR. Imam Ahmad dari Abu Zarr ra)

“Ummatku senantiasa dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka dan melambatkan sahur” (H.R. Imam Ahmad dari Abu Zarr r.a.).

Diriwayatkan dari Anas, Zaid bin Tsabit r.a. berkata, “Kami telah makan sahur bersama-sama Nabi Saw., kemudian baginda bangun mengerjakan salat. Anas bertanya kepada Zaid, ‘Berapa lamanya antara azan (Subuh) dengan waktu makan sahur itu?’ Dia menjawab, ‘Sepadan dengan waktu yang dibutuhkan untuk membaca 50 ayat.’”

Hadis ini menunjukkan bahwa jarak atau interval waktu antara bersahurnya Rasul saw. dan azan Subuh adalah kira-kira 50 ayat. Itu artinya Rasul saw. tidak lagi makan sahur sampai berkumandangnya azan subuh.

Rasulullah saw. sahur dan berhenti kira-kira waktu yang dibutuhkan untuk membaca 50 ayat Alquran sebelum masuk waktu subuh. Inilah yang dipahami oleh para ulama kita, sehingga menetapkan sunnah berimsak sekitar waktu yang dibutuhkan untuk pembaca 50 ayat Alquran tersebut yang diperkirakan setara dengan 10–15 menit.

Demikian Jadwal Imsakiyah Puasa Ramadhan 1439 H / 2018 M dan Sholat Lima Waktu untuk seluruh wilayah Indonesia. Wasalam.

Comments
To Top