Ramadhan

Selamat Datang Ramadhan, Bulan Keberkahan

Ramadhan datang kembali ketika dunia secara fisik sudah berubah, semakin menua dan semakin papa. Ramadhan tiba menjemput kita menuju pengampunan untuk mendapat kemulian. Salam kehangatan sering disampaikan, ”Marhaban” selamat datang, wilujeng sumping bulan keberkahan.

Ramadhan termaktub di dalam Al Qur’an sebagai kultur peradaban manusia Muslim sejak sebelum era Muhammad SAW, Puasa Ramadhan merupakan jalan menuju ketaqwaan seperti diungkap di dalam sebuah kalimat indah Al-Qur’an,”..La’allakum Tattaqun”. Agar kalian bertaqwa kepada Allah SWT, Surat Al-Baqarah Ayat 183.

Selanjutnya, ramailah berkat keberkahan Ramadhan diseantero dunia, ditengah bisingnya suara mesiu di Suriah dan Palestina, diantara matahari yang seolah “sulit”terbenam di Antartika, ditengah kesulitan kaum urban Muslim di benua Eropa hingga umat manusia yang dilanda kelaparan di Ethiopia dan daratan Afrika.

Tapi Tuhan ada begitu dekat dengan bahkan saat jutaan manusia Muslim berbuka puasa, di dalam haditsnya Rasulullah Muhammad SAW pernah bersabda,”2 kegembiraan seorang mu’min yang berpuasa itu adalah saat dia berbuka puasa dan ketika dia bertemu Tuhannya kelak di hari akherat atau di hari Qiyamat, Subhanallah.

Buka Bersama dan Kepekaan Sosial Manusia Modern

Ramailah orang dengan agenda berbuka bersama (Bukber) menjalin kebersamaan dan kehangatan, nyaris semua lapisan datang ke masjid, rumah sahabat bahkan hotel dan restoran hingga pinggir jalanan untuk berbuka puasa bersama, mengejar sunnah manisnya berbuka, lalu?, hiduplah lebih sederhana jangan glamour dan membuang-buang uang.

Ketika orang-orang yang hancur hatinya itu adalah mereka yang tak beranjak dari nestapa, hanya meminum air putih dan memakan debu mesiu saat bersahur atau berbuka, bahkan seorang yang tidak mampu berbelanja sekedar membeli 1 liter beras untuk makan mereka, tak punya uang untuk ke kafe dan resto, tak merasa perlu bepergian karena tak mampu meninggalkan anak-istri yang lebih ingin makan bersama dengan kehangatan keluarga di rumah-rumah kontrakan.

“Aku Ada ditengah Orang-Orang yang hancur hatinya”, demikian kata Tuhan saat Musa ingin bertemu dengan DIA.

Realitas sosial masyarakat Modern Muslim Indonesia saat ini seperti dalam kegamangan antara ajaran tauhid sosial atau kemunkaran terstruktur, seolah dekat dengan agama padahal berisi simbolisasi agama demi kepentingan sesaat atau politik praktis, yang bertentangan dengan spirit humanisme bahkan jauh dari nilai-nilai dan kepekaan sosial.

Ramadhan dalam tafsiran sosial menurut penulis adalah keluhuran kultur masyarakat Muslim untuk menuju kebahagiaan, ketika jutaan Muslim membayar zakat secara sukarela karena perintah agama, sebagai pemberian ikhlas seorang Mu’min untuk membersihkan diri dan mensucikan jiwanya dan menciptakan kebahagiaan bagi 8 golongan yang bisa menerima pemberian mereka.

Zakat fitrah yang memiliki nilai sosial dan bisa menyelamatkan seseorang dari kemiskinan dan ketidak mampuan dihari penuh kebahagian diakhir Ramadhan.

Didalam Surat Al-Ma’un bahkan dikatakan bahwa,” Apakah kamu mengetahui siapakah orang yang mendustakan agama itu?, yakni mereka yang menghinakan yatim dan tidak mengajak si miskin untuk makan.

Dari sini kita perlu mengintrospeksi diri, Apakah dengan Ramadhan tidaklah cukup untuk menyindir kebiasaan israaf (boros), borjuis, hedonis, atau riya kita? Menghindarkan glamouritas menjadi penting saat kita melihat “kebawah”.

Ramadhan datang mengajarkan kita tentang kesabaran, tentang kekuatan iman, ketulusan dan tentang indahnya berbagi, ketulusan menahan rasa lapar dan dahaga.

Bahkan Tuhan pun berkata,”Puasa itu milikku dan aku yang akan mengganjar/membalas orang yang berpuasa itu, diungkap dalam sebuah Hadits Qudsi.

Jadi hanya dia dan Tuhan yang mengetahui soal ibadah ini, karena ketulusan dan kejujuran menjadi kunci bagi mereka yang berpuasa.

Selamat Berpuasa, menuju hari kemenangan hakiki mendapatkan reward Tuhan karena ketulusan, keimanan, kehidupan Qur’ani dan berkeadilan sosial.

Marhaban Ya Ramadhan, Selamat Datang Bulan Penuh berkah, bulan kemuliaan.

Comments
To Top