Ramadhan

Wajib Tahu, Inilah Keutamaan I’tikaf di Bulan Ramadhan

Ramadhan akan segera berakhir, umat muslim diseluruh dunia berbondong-bondong pergi ke masjid untuk melaksanakan ibadah i’tikaf. Sejumlah masjid dipenuhi umat yang akan melaksanakan i’tikaf, mereka mencari ridho Allah SWT.

I’tikaf sendiri berasal dari bahasa Arab akafa yang berarti menetap, mengurung diri atau terhalangi. Itu artinya orang=orang sengaja menetap di masjid untuk mendapatkan sejumlah keutamaan i’tikaf. Ada banyak keutamaan i’tikaf.

Dengan mengetahui keutamaannya, tentunya akan membuat kita sebagai umat muslim menjadi lebih tertarik untuk melaksanakan i’tikaf di masjid bersama umat muslim lainnya. Berikuti ini beberapa keutamaan dan faedah i’tikaf yang wajib dikehui seperti dikutip dari laman Republika Online.

1. Mencari malam Lailatul Qadar.

2. Orang yang i’tikaf akan terjaga dari perbuatan maksiat,

3. Orang yang i’tikaf akan dijauhkan dari neraka jahanam sejauh tiga parit. Menurut Al-Kandahlawi jarak satu parit itu lebih jauh dari pada jarak antara langit dan bumi.

4. Orang yang beri’tikaf akan dengan mudah dapat mendirikan shalat fardhu secara kontinu dan berjamaah.

5. I’tikaf membantu menguatkan seseorang untuk menjalankan shalat dengan khusyuk.

6. Membantu orang melakukannya untuk menjalankan shalat atau amalan sunah.

7. Orang yang i’tikaf akan selalu beruntung karena selalu mendapatkan shaf pertama shalat berjamaah.

8. Mendapatkan pahala menunggu datangnya waktu shalat.

9. I’tikaf membiasakan jiwa untu senang berlama-lama di masjid, dan menggantungkan hati pada masjid.

10. I’tikaf memudahkan pelakunya untuk menjalankan shalat malam.

11. Membiasakan hidup sederhana, zuhud, dan berlaku tak tamak terhadap dunia.

12. I’tikaf ikut menjaga shaum seseorang dari perbuatan-perbuatan dosa, walau kecil sekalipun.

13. I’tikaf berguna untuk mendidik jiwa agar terbiasa berlaku sabar dalam menjalankan amal saleh.

14. Dapat mencegah keinginan untuk melakukan kemaksiatan, serta mendidik berlaku sabar dalam menghadapi segala bentuk kemaksiatan.

15. I’tikaf dapat digunakan sebagai sarana untuk introspeksi diri, mengetahui sejauh mana kekuatan dan kelemahan yang ada.

Untuk menambah pengetahuan kita tentang i’tikaf ada sebuah hadits yang disebutkan oleh Ibnu Hajar Al Asqolani dalam kitab beliau Bulughul Marom, yaitu hadits no. 699 tentang permasalahan i’tikaf.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ:- أَنَّ اَلنَّبِيَّ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَعْتَكِفُ اَلْعَشْرَ اَلْأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ, حَتَّى تَوَفَّاهُ اَللَّهُ, ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ – مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa beri’tikaf di sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan hingga beliau diwafatkan oleh Allah. Lalu istri-istri beliau beri’tikaf setelah beliau wafat. Muttafaqun ‘alaih. (HR. Bukhari no. 2026 dan Muslim no. 1172).

Comments
To Top